Koran Ibu dan Jurnalisme Desa
Kelik M. Nugroho, wartawan tempo
Sekelompok ibu mantan buta aksara membikin koran? Ya, pada November dan Desember 2009, 51 kelompok ibu yang baru saja melek huruf di berbagai daerah se-Indonesia sedang memproses penerbitan semacam tabloid setebal 16-20 halaman, yang disebut koran ibu. Upaya penerbitan koran ibu itu bagian dari program pemberdayaan perempuan yang digeber oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional.
Pada 8 Desember 2009, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal akan memberi Penghargaan Aksara dalam kategori pemberdayaan masyarakat, inovasi keaksaraan, budaya baca masyarakat, dan pendidikan pemberdayaan perempuan. 1\ilisan pendek ini semoga bisa menjadi masukan untuk pengembangan kegiatan koran ibu, salah satu program yang mestinya termasuk yang diapresiasi. Seperti termuat dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Koran Ibu (Departemen Pendidikan Nasional, 2009), koran ibu merupakan media peningkatan kemampuan keaksaraan para “aksarawan” baru yang bersifat sederhana baik dari sisi pembuatan maupun muatan informasi di dalamnya. Proses pembuatannya dilakukan sendiri oleh, untuk, dan dari aksarawan baru. Soal biaya operasional, tentu saja mereka mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Koran yang tak diharapkan menjadi koran kebanyakan yang dibuat untuk tujuan komersial ini hanya dicetak 500 eksemplar dan disebarkan di kalangan aksarawan baru secara gratis.
Apakah kegiatan koran ibu ini sesuatu yang “melompat”? Bagaimana mungkin para melek huruf bara ini langsung bisa menjadi wartawan dan penulis?
Sebagai ide, kegiatan koran ibu bagi para aksarawan baru ini harus diapresiasi sebagai kegiatan yang genuine dan genial. Jarang-jarang program pendidikan dari birokrasi pemerintah yang bisa dinilai inovatif. Nah, gagasan koran ibu ini pengecualian. Dinilai genuine, karena koran ibu adalah bentuk media yang relatif baru bahkan di tingkat dunia. Dinilai genial, karena koran ibu merangsang para aksarawan baru untuk-terlibat pada kegiatan semacam jurnalisme warga {citizen journalism), istilah yang muncul di ranah ma-yantara berkat munculnya media blog.
Hanya, harus diakui bahwa bagaimana pun kegiatan koran ibu, bagi para aksarawan baru tersebut, adalah, kegiatan yang “melompat”. Pengalaman penulis mendampingi proses pembuatan koran ibu di Karanganyar, Jawa tengah, menunjukkan bahwa para ibu aksarawan baru tersebut paling banter hanya mampu menulis laporan jurnalistik yang masuk dalam kategori draf atau sketsa atau skets jika di-analogikan dalam bidang seni lukis. Jadi, agar tidak “melompat”, para aksarawan baru harus mendapat pelatihan terlebih dulu. Apakah target koran ibu memang hanya menyajikan koran berisi skets karya ibu-ibu aksarawan baru?
Semoga tidak. Sebab, di India, ada media semacam koran ibu bernama Khabar Lahinya yang bisa dijadikan contoh. Seperti laporan yang dimuat di situs UNESCO, koran seukuran tabloid setebal 8 halaman itu ditulis sepenuhnya oleh wanita-wanita yang baru saja melek huruf, dari daerah dan berkasta rendah. Soal kasta, ini konteks India yang unik. Iterbit sejak 2002, koran Khabar Lahinya dibaca sekitar 25 ribu orang dan menyebar di 400 desa di India bagian utara.
Mengapa Khabar Lahinya sukses? Koran ini gagasan organisasi nirlaba Nirantar, yang berkedudukan di New Delhi, yang bergerak dalam bidang kampanye keaksaraan dan pemberdayaan perempuan. Pada awal rintisan, organisasi ini menyeleksi para calon awak redaksi yang dipilih dari berbagai tingkat kemampuan dalam keaksaraan dan latar sosial yang terpinggirkan. Mereka ditawari untuk mengikuti pelatihan yang intensif di bidang keaksaraan, pelaporan, penulisan, dan peng-editan. Pada 2004, mereka mengadakan kursus pembuatan koran, newsletter, dan buletin. Kursus dirancang dalam dua paket modul 14 dan 7 hari untuk menyesuaikan kebutuhan lokal per lokal dan untuk kelompok aksarawan baru dan semi-melek huruf. Fasilitator mendapat honor bulanan, sementara peserta mendapat pelatihan untuk menggunakan Internet dan mengoperasikan kamera.
Salah satu kekuatan Khabar Lahinya, bahwa jurnalisme mereka adalah jurnalisme oleh desa, dari desa, dan untuk desa. Para reporter perempuan menulis tentang apa saja. Birokrasi lokal bisa saja dikritik karena keteledorannya dalam menjalankan tugas. Dan, dalam beberapa kasus, orang bisa mendapatkan ganti rugi karena tulisan di dalam koran. Ketika mereka melaporkan kasus yang berkaitan dengan perempuan, misalnya menyangkut pemerkosaan dan kekerasan gender, mereka menyajikan laporan secara berimbang.
Berkat jurnalisme yang bermutu, pada Maret 2004, Khabar Lahinya mendapat penghargaan The Chameli Devi Jain Award, salah satu bentuk penghargaan tertinggi di bidang jurnalisme di India. Lalu, pada 2009, Nirantar, sebagai organisasi yang menggagas proyek koran ini, mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai pemenang King Sejong Literacy Prize. Hadiah ini merupakan penghormatan terhadap para wanita yang telah berjuang untuk memerangi diskriminasi berdasarkan kasta, gender, dan ketidakadilan dalam memperoleh akses pendidikan.
Belajar dari Khabar Lahinya, koran ibu mestinya didukung. Kegiatan koran ibu harus mendapat apresiasi lain karena beberapa hal. Pertama, karena kegiatan koran ibu adalah inisiatif pemerintah, yang karena itu kegiatannya bisa berjangka panjang. Kedua, kegiatan koran ibu diharapkan mampu mendorong peran ibu-ibu di daerah untuk menjadi jumalis amatir yang- seperti kewajiban jumalis pada umumnya-menjadi pewarta dan pengontrol sosial. Ketiga, kegiatan koran ibu bisa menjadi media pelengkap bagi media arus utama (mainstream) yang cenderung kurang memberitakan kepentingan kaum perempuan, warga desa, dan kaum terpinggirkan lainnya.
Bagaimana Jika Dunia Tanpa Lebah?
Sambil menunggu jadwal penerbangan ku Surabaya – Mataram, lalu lalangnya manusia di Bandara mengingatkan ku akan kehidupan ini. Mungkin istilah tepatnya refleksi. manusia bertambah karena perkawinan, nah bagaimana dengan tumbuhan bisik ku dalam hati. jangan-jangan bekerja bersama lebah dan para petani di Sumbawa merupakan “tangan tuhan” untuk menunjukkan cara lain menyelamatkan bumi ini. Ah wallahualam……. Aku gak pedulilah karena selama ini aku berkerja dengan masyarakat di “haluan lain birokrasi”, merpakan cara ku untuk mengalirkan gagasan dan idelaisme yang- bagaikan air bah – tak tertampung dalam bejana birokrasi – mungkin saja di Indonesia.
Tidak banyak yang care soal lebah, bahkan lebah hutan luput dari arus besar (mainstream) pengelolaan hutan di Indonesia. Padahal menurut Islam, soal lebah ini khusus Allah SWT menyebutnya dalam satu surat yakni Surat An Nahl. Allah SWT mungkin punya pesan khusus mengapa memilih lebah. Telah banyak ustad/ustzad, mubalig dan juru dakwa mengupas soal karakter lebah ini. Akan tetapi mengupas peran lebah dalam mengatur siklus kehidupan tidak banyak kita dengar.
Lebah dan Siklus Kehidupan Salah satu faktor penting kesimabungan generasi mahluk hidup di dunia yakni perkawinan bagi manusia dan penyerbukan bagi tumbuhan. Bagi manusia, hewan mungkin tidak telalu kita risau, karena semuanya memiliki insting, nafsu. akan tetapi bagaimana dengan tumbuhan?, titik pentingnya tumbuhan di penyebukan antara benang sari dan putik. Pertanyaannya siapa yang mengawinkan benag sari dan putik? dan bagaimana jika tidak penyerbukan?. Kita akan bahas satu-satu.
Peran Lebah dan Penyerbukan Lebih dari 90% penyerbukan tanaman di dunia ini dilakukan oleh insekta (kelas serangga). mahluk kecil yang mungkin saja kita liat sepintas tak berpengaruh. dari 90% itu sebanyak 60% penyerbukan karena lebah. Pohon berbuat, akibat penyerbukan. Buah yang kita makan sehari-hari tanpa kita sadari merupakan jasa dari lebah atau insekta lainnya.
Hari ini cukup saja dulu ah….mau berkemas-kemas naik pesawat
Diposkan oleh julmansyah
